9 Maret 2012

What a...............!!!!

What a mean you are! What a liar! What a chicken! What a devil! What a.............. *sensor*


Rasanya hati itu kayak elpiji 3 kilo #eh salah elpiji 34,78 kg yang sengaja dibakar. Udah tau barang serem, tapi berani nantang mau njadiin barang serem macem elpiji jadi lebih serem lagi. Kentir, kemlinti, gendeng, gak bek sisan (gak penuh) (?)
Susah ya mendeskripsikan perasaan sama analogi analogi intelektual gitu. Bisa aja antara analogi satu sama analogi dua masih belum berkesinambungan dengan situasi hati. Sebisa bisa orang baca perasaan, kayaknya nggak separah aku menganalogikan perasaanku sendiri. Btw, analogi apaan sik?
Nggak penting. Sekarang yang penting ini..............


Ternyata masih ada lho jeung/ ndoro/ tuan/ nyonyah, orang di bumi ini yang sukanya pamer kalo punya "barang baru"!! Yaaaa meskipun "barang baru" nya itu cuma barang biasa. Ngerasa jadi pejantan tangguh ya kalo udah berhasil ngoleksi barang-barang yang dipengen? Ngerasa ganteng? Ngerasa hebat? Iyadeh, emang paling tangguh, ganteng, hebat di sepanjang masa. Mmm, masa purba tapi =)))


Aku sama sekali nggak keberatan kamu deket sama perempuan mana pun. Aku nggak berhak atas kamu. Aku bukan siapa siapa kamu. Dan yang pengen tak klarifikasi adalah memang aku pernah suka sama kamu, tapi itu dulu. Duluuuu banget, waktu aku masih polos dan mataku masih belum terbuka lebar :'>


Ngerasa dapet pahala ta kalo udah ingkar janji itu? Syek tak ngguyu syek :)) Katanya alim, ngajinya rutin, solat juga nggak pernah bolong, puasa senin-kamis juga nggak pernah lupa, tapi kenapa kok sombong nya nggak nguati gitu se mas? Oiyase, kan punya "koleksi baru" yah. Njiee yang sekarang udah berani bangga banggain "koleksi baru" mu. Nggak inget ta kalo dulu sering maki-maki "koleksi baru" mu? Nggak inget juga apa dulu suka nyia-nyia in "koleksi baru" nya? Nggak inget juga ta, dulu pernah bilang kalo "koleksi baru" mu itu aneh, mboseni, bikin ilfil, dan bla bla bla~? 
Dan... kayaknya kamu juga udah nggak inget kali ya sama janji janji buatanmu sendiri untuk aku!!!!   
Tau nggak ungkapan "seperti menjilat ludah yang sudah dibuang"? Yaaa kamu cukup pintar lah buat mengerti makna ungkapan nya. Kalo udah ngerti maknanya coba introspeksi lagi yah :'))
Mmm, btw met yaaaah..


Oiya satu lagi, pernah nggak sih aku maksa kamu buat suka balik ke aku? Pernah juga nggak sih aku maksa maksa kamu deket sama "koleksi-koleksi" mu yang lain? Pernah nggak ya aku maksa kamu mutusin semua "koleksi-koleksi" mu? Nggak kan ya. Muehehe.
Jadi, kamu juga nggak punya hak buat maksa maksa aku pacaran sama orang yang belum aku sukai. Ibuku yang sehari hari ngasih makan sama ngasih uang jajan aja nggak pernah mencampuri urusan pribadiku!! Tapi kenapa ya, kamu yang bukan siapa siapa ku jadi heboh sendiri gitu sok sok an ikut campur urusanku? Pengen jadi pahlawan kesiangan yah? Maaf mas, udah magrib!


Satu hal lagi yang mesti kamu camkan baik baik:
Uripmu yo uripmu, uripku yo uripku!
Mbiyen yo mbiyen, saiki yo saiki!

1 Maret 2012

Janji Diatas Ingkar

Pernah nggak kamu dijanjiin atau diiming-imingi sesuatu yang indah sama orang yang kamu harapakan? Seneng banget kan? Bahagia? Terharu? Kayak terbang gitu atau gimana? Kalau aku ya, nggak bisa diungkapin sama kata-kata pokoknya. Tau nggak "janji palsu" mu itu sempet bikin aku melayang. Tapi cuma bentar, habis gitu langsung jatuh. Muehehe.
Bisa dikatakan aku berhasil memendam rasa sakit akibat "jatuh" tadi dengan caraku sendiri. Ya, memang hanya waktu yang bisa bantu aku bertahan. Bukan siapa-siapa bukan apa-apa. Berat. Sakit. Capek. Nelangsa. Terkoyak. Macem-macem. Aku nggak menyalahkan siapa siapa. Karena kita sama sama salah. Tau nggak salahmu apa? Kamu salah karena udah membuat janji janji itu ada. Membuat aku semakin berharap. Lalu membuat aku semakin sakit menanggung resikonya.
Kalau aja aku udah tau kalau janji itu hanyalah omong kosong. Andai aja dulu aku yakin kalau janji itu adalah harapan yang hanyalah sebuah harapan. Pasti rasanya nggak sesakit ini ya. Meskipun aku adalah tipe anak yang "menter" tapi sementer-menter nya aku, pasti akan jatuh juga :'>
Aku mencoba mengkaitkan analisis persoalanku dengan persoalan yang dialami sama temen baikku. Inti permasalahannya adalah temen baikku ini baru menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang baru dekat dengannya selama 3 hari. Sebelumnya, memang laki-laki ini pernah dekat dengan teman perempuannya. Sampai akhirnya mereka mengikatkan diri mereka diatas sebuah janji dan bla bla bla~ Tapi dalam jangka waktu yang pendek pula laki-laki yang sekarang ini sedang menjalin hubungan dengan teman dekatku ini mengingkari janjinya dan berani menjalani hubungan dengan teman baikku ini.
Tentulah ada saja permasalahan yang dialami mereka. Salah satunya, pacar teman baikku ini masih belum bisa melupakan mantan teman dekatnya dahulu. Dan timbullah rasa ketidakpercayaan dari teman baikku kepada kekasihnya serta teman baikku ini sedang membenci "mantan" teman dekat kekasihnya itu.
Hey, sadar nggak? Sekarang aku sedang berada di posisi mantan teman dekat kekasihmu lho. Hahaha. Kadang aku benci sama sahabat baikku sendiri karena keberadaan sisi antagonisnya. Satu sisi dimana dia lebih respect dengan apa yang dia rasakan sendiri daripada apa yang sedang dirasakan mantan teman dekat kekasihnya. Egois. Jahat.
Mungkin sahabat dekatku masih belum menyadari bahwa "AKU DAN MANTAN TEMAN DEKAT KEKASIHNYA ITU SAMA SAMA NGGAK BISA MEMBEDAKAN MANA YANG JANJI MANA YANG SEKEDAR BUALAN. AT LEAST IT WAS SO HURT US!"

29 Desember 2011

Wejangan.

Dalam situasi yang sebenernya, aku sama ayah emang "njowo-an". Karena aku orangnya nasionalis dan bangga terhadap Bahasa Indonesia, aku mencoba menerjemahkannya.

A : Yah, ayah dulu pernah nggak suka sama cewek? Orangnya cantik?
B : Pernah. Nggak cantik, tapi menarik. 
A : Ayah sayang sama dia? Terus ayah udah bilang sayang sama orang itu?
B : Ayah nggak berani, vir. Masalahnya kalau dulu mau pacaran sama anak orang itu kan harus punya bekal materi dulu.
A : Lho kok gitu? Aneh!
B : Ya itu bedanya jaman dulu sama jaman sekarang. Kalau dulu, mau pacaran sama anak orang ya harus punya materi yang cukup untuk menuju ke jenjang selanjutnya.
A : Masa kalau udah pacaran harus langsung nikah? 
B : Ya kebanyakan gitu. Ayah juga sungkan kalau ayah sampai menyakiti perasaan anak orang. Gak baik itu, vir.
A : Wih wih! Katanya kan dulu mbah kung itu cuma orang biasa, kalo gitu waktu SMA kan ayah nggak punya materi lebih. Berarti ayah nggak pernah pacaran?
B : Ya ndak, vir! 
A : Sekarang aku nggak punya kecukupan materi. Berarti aku nggak boleh suka sama cowok dong?
B : Kamu kan perempuan. Situasinya sudah beda dengan situasi yang ayah alami. Suka sama orang itu hak mu. Tapi kalau orang yang kamu suka itu nggak suka sama kamu, itu juga hak dia. Kamu ataupun dia nggak boleh saling memaksakan kehendak. Itu bisa merusak pertemananmu sama dia juga.
A : Kata temenku ya yah, kalau aku lagi suka sama cowok itu harus cepet-cepet diungkapin. Biar nggak nyesek terus terusan. Biar cowok yang aku suka itu nggak berpaling ke orang lain. Temenku bener nggak?
B : Ada benernya juga. Tapi kamu harus hati hati, kalau kamu siap menjalin hubungan tingkat anak SMA, kamu juga harus siap untuk sakit hati.
A : Yaudahlah ada benernya juga ya yah kalau aku sekarang nggak pacaran sama siapa siapa!
B : Kamu salah pengertian. Pacaran tingkat anak SMA itu cuma nambah pengalaman dan wawasanmu aja biar kedepannya nanti kamu lebih dewasa memilih calon-calon suami dan ayah untuk anak anakmu. Intinya pacaran tingkat anak SMA itu hanya tahapan menuju suatu kedewasaan aja.
A : Tapi kalau ujung ujung nya sakit hati? Jadi males yah!
B : Lho, sakit hati itu juga biar kamu jadi lebih dewasa, vir! Waktu sakit hati itu kan emosimu lagi labil dan sedang diuji sama Allah. Apakah kamu mampu atau tidak melewati masa-masa sulit ini. Kalau kamu mampu, berarti kamu tambah dewasa. Kalau kamu tidak mampu, ya kamu masih jadi remaja labil.
A : Kok jadi serba salah gitu se yah? Terus aku harus gimana sekarang?
B : Kalau pacaran tingkat anak SMA itu jarang ada yang bener bener serius dan tidak beresikokan sakit hati bagi yang menjalankannya. Daripada sakit hati, mending kamu pacarannya kalau udah jadi orang aja!
A : *kemudian hening*

*Tembok-tembok retak*

*Kaca meja pecah*

*Berasa ada di tepi jurang*

Tapi wejangan-wejangan Ayah bener semua. Dari cerita ayah aku juga belajar gimana arti menghargai  perasaan orang sampai memahami perasaanku sendiri. 
Thanks yah! Simple words but meaningful! ({})

22 Desember 2011

Flying with the wind

I'm writing based on my experiences. Whatever I thought, i really don't care. Just followed my heart, as long as i could have some kind of happiness over the tears which doesn't still go away from me. If you ask me that am I still live in my past, I'll admit it. I was still there. However if you ask me what the reasons, so pardon me i can't describe that. Cause i don't know why. That's simple right? All i knew was there weren't one prince who helped me get out from there and follow him landed just to stop over while in my smiling time.


But, that was my past. You know what! I feel something else comes slowly in my better life. Came like a blast of wind which can't be touched but can be felt it. I still doubt that blast of wind which i felt there was real or just a fiction. However, I tried to follow where they lead by continuing to feel some breaths of it to penetrated my soul.


I continued to follow some directions of that blast wind. Although I don't know whether he knew or not why i followed him quietly. I didn't hope if that wind take me to somewhere i dreamed of. Such a wonderful places, brighter than here, and very fun scenery. I wouldn't blame if the next time after, I will carried by him over to a contrast place of my wishes should be.


Maybe once in a while, I have to be careful with that wind. I can be hurt and being sick if that was a kind of bad wind. But, I could fly with him,  if he was such a good wind which wanted to be a good friend with me. Of course, i don't want the bad things happen to me. I wish i can fly with that wind which followed by me. Despite I ever felt the pain because I had follow the blowing winds and I ever felt some happiness when I can fly with him.

10 Desember 2011

8 Desember 2011

Hampa.

Bersandar kekuatan pada tarian warna pelangi
Sepi bernyanyi malam dalam sajadah rinduku
Selama matamu bagiku masih menengadah
Selama darahmu mengalir dari luka
Disitulah relung jiwaku bergema nyanyikan lagu tanpa kata.


Gerimis mempercepat kelam
Dan kelopak dedaunan menimbulkan muram
Rasakan peristirahatan panjang bagai raga dalam kesunyian makam.
Serta kedamaian bagi jiwa dalam sumur keabadian.


Kau ceritakan padaku bahwa cinta adalah kegelapan
Kutawarkan padamu sayap-sayap di atas gelombang yang mengamuk
Bangunlah! Karena sunyi telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para pejalan kaki.
Dan rasa kantuk telah memeluk roh setiap hamba
Sementara aku terbangun sendiri dengan rasa rindu yang membukakan kertas surat tidurku.


Pikiranku berhias kenangan yang menyingkap keburaman senja
Keletihan pagi dan kegundahan malam.
Timbulkan mimpi-mimpi kebimbangan melanda serpihan yang lemah
Dan aku mendengar rintihan pahitnya.


Kini kau menjadi suatu lingkaran cahaya
Di sekeliling matahari yang tiada berawal dan tiada berakhir
Melingkari semua yang ada
Membuat segalanya damai dalam keabadian.


Ketahuilah!
Sebelumnya aku hanya mendengar jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia.
Tapi sekarang aku belajar mendengar keheningan.
Yang bergema dan melantunkan lagu dari zaman ke zaman.
Menyanyikan nada langit dan menyingkap tabir kerinduanku...

31 Juli 2011

It All Ends Now

Setelah beberapa tahun yang lalu aku bertahan untuk sebuah ketidakpastian, aku mulai meninggalkan harapan itu bersama waktu yang ditakdirkan. Sembari memejamkan mataku yang basah ditelan kepedihan yang selalu kusimpan dalam-dalam. Ku hela nafasku panjang dan menundukkan wajahku yang muram. Seakan ku tak ingin menatap kehidupan yang berada tepat di hadapanku. Sebab kehidupan itu terlihat menyakitkan bahkan amat menyakitkan. Ku tak bernyali melihat apa lagi melangkah menuju kehidupan itu. Semua terlihat pudar tanpa ada seberkas puing-puing keindahan yang tersisa.
Kurasakan kepedihan itu dibawah langit-langit kamarku. Tetes demi tetes air mata ini menjatuhi sarung bantalku. Namun, aku terus membiarkan tubuhku yang terbujur kaku diatas ranjang. Gadis macam apa aku ini? Tak lama aku mendengar suara terbesik halus menghinggapi telingaku. Suara itu berkata, "Hanya gadis tak tau diri, yang rela membiarkan dirinya jatuh kedalam keputusasaannya sendiri".
Perlahan ku raih telepon genggamku sembari menahan gemetir tanganku. Kubaca setiap pesan yang dikirim olehmu beberapa menit lalu. Sudah kukira jika setelah kubaca pesan itu, hati ini semakin terasa nyeri.
"Pesan itu sungguh Biadab !" 
Ya Allah, jika perlu aku mati untuk melupakan semua hal yang telah terjadi, maka LAKUKANLAH. Aku sudah kehabisan akal untuk mengetahui bagaimana cara menyikapi perasaan yang kutanam sendiri. Jika memang kematianku bisa mengakhiri semuanya, aku rasa hal itu tidak sebegitu buruk.

9 Juni 2011

4 Juni 2011

why are you dont know what the reasons ?

Sebelum aku merasakan perasaan yang menjijikkan ini, aku bagaikan kunang-kunang yang bebas berjalan di kegelapan. Seperti tidak ada kabut penghalang yang menghalangi langkahku untuk terbang di dalamnya. Tanpa ingin kuterangi pun, kegelapan itu tak pernah memintaku untuk selalu meneranginya. Kegelapan itu tak pernah menghiraukan kehadiranku. Sesaat aku hadir maupun setelah aku pergi, kegelapan tidak pernah bahkan tidak ingin memalingkan sedikitpun perhatiannya ke arahku.
Namun, ketika aku merasakan perasaan yang menjijikkan ini, mengapa Tuhan mentakdirkan aku untuk selalu menerangi kegelapan itu ? Apa tiada hal lain yang bisa aku lakukan selain kewajiban mutlak yang harus aku lakukan ini? Seandainya, kegelapan itu tahu mengapa aku selalu meneranginya, aku takkan segan bermalam panjang sampai kegelapan itu lenyap tergantikan siang. Bahkan aku rela mati menunggu kegelapan ditengah teriknya elegi sang pagi. Tapi kenyataanlah yang menyadarkanku. Kegelapan itu tak mengerti alasan mengapa aku meneranginya.
Kegelapan malam itu seolah hanya mengetahui alasan mengapa lampu jalan meneranginya. Hanya itu. Padahal, tak setiap waktu lampu lampu jalan itu meneranginya. Lampu-lampu itu menerangi kegelapan hanya jika listrik desa sepanjang jalan tak putus diterjang hujan. Tapi aku? Akulah kunang-kunang bodoh yang selalu menerangi kegelapan tanpa menghiraukan seberapa peduli kegelapan itu dengan keberadaanku.
Aku memohon kepada Tuhan agar aku bisa meninggalkan kegelapan yang tak pernah pedulikanku. Maka dari itu, Tuhan Yang Maha Pemurah memberi pilihan kepadaku. Jika aku ingin meninggalkan kegelapan yang seharusnya aku terangi, aku harus mati. Namun, aku akan tetap hidup jika aku masih tetap menerangi kegelapan dan menahan perasaan sakit tanpa hirauan kegelapan yang aku terangi.
Jika Tuhan megizinkan aku akan memilih mati dan meninggalkan seberkas cahaya yang tersisa untuk kegelapan yang dulu benderang karena cahaya yang kuberikan. Mungkin setelah aku mati kelak, perlahan kegelapan itu akan menyadari alasan selama ini aku meneranginya dengan ketulusan.



1 Juni 2011

how about you ?

Ketika aku tidak bisa merasakan sesuatu yang seharusnya bisa aku rasakan, aku tidak pernah berpikir untuk melupakanmu. ketika kurasakan sesuatu yang seharusnya tidak aku rasakan, aku tidak pernah inginkan untuk sejenak berhenti mencintaimu. namun, apakah ketika semua yang aku rasakan tadi juga kau rasakan persis dalam hatimu? Atau kau hanya pura pura merasakan hal itu ketika kau berada tepat didepan pandanganku?
Mungkin kau tak mengerti tentang apa yang saat ini kutuliskan. Yang saat ini kurasakan bahkan yang ingin kuberitahukan. Pikiranku sangat abstrak untuk kau mengerti. Begitu juga dengan aku yang sulit mengartikan betapa rumitnya pikiranmu, bukan?
Hal inilah yang kini aku pertanyakan pada blogger yang berfungsi sebagai buku harian kapanpun aku mau. Sebenarnya, apa saja yang sedang kamu pikirkan tentang aku ? Apa aku cukup menjadi seorang perempuan yang terlihat bodoh karena mencintaimu ? Apa aku cukup idiot menjadi seorang teman yang menikam seolah ingin memilikimu ?
Ah, sepertinya aku terlalu berlebihan menceritakan sesuatu tentang dirimu. Dan aku tahu kau pun tidak berlebihan seperti ini saat membicakan soal aku.
Haha, begitu bodohnya aku merasakan perasaan konyol seperti ini.