22 Desember 2011

Flying with the wind

I'm writing based on my experiences. Whatever I thought, i really don't care. Just followed my heart, as long as i could have some kind of happiness over the tears which doesn't still go away from me. If you ask me that am I still live in my past, I'll admit it. I was still there. However if you ask me what the reasons, so pardon me i can't describe that. Cause i don't know why. That's simple right? All i knew was there weren't one prince who helped me get out from there and follow him landed just to stop over while in my smiling time.


But, that was my past. You know what! I feel something else comes slowly in my better life. Came like a blast of wind which can't be touched but can be felt it. I still doubt that blast of wind which i felt there was real or just a fiction. However, I tried to follow where they lead by continuing to feel some breaths of it to penetrated my soul.


I continued to follow some directions of that blast wind. Although I don't know whether he knew or not why i followed him quietly. I didn't hope if that wind take me to somewhere i dreamed of. Such a wonderful places, brighter than here, and very fun scenery. I wouldn't blame if the next time after, I will carried by him over to a contrast place of my wishes should be.


Maybe once in a while, I have to be careful with that wind. I can be hurt and being sick if that was a kind of bad wind. But, I could fly with him,  if he was such a good wind which wanted to be a good friend with me. Of course, i don't want the bad things happen to me. I wish i can fly with that wind which followed by me. Despite I ever felt the pain because I had follow the blowing winds and I ever felt some happiness when I can fly with him.

10 Desember 2011

8 Desember 2011

Hampa.

Bersandar kekuatan pada tarian warna pelangi
Sepi bernyanyi malam dalam sajadah rinduku
Selama matamu bagiku masih menengadah
Selama darahmu mengalir dari luka
Disitulah relung jiwaku bergema nyanyikan lagu tanpa kata.


Gerimis mempercepat kelam
Dan kelopak dedaunan menimbulkan muram
Rasakan peristirahatan panjang bagai raga dalam kesunyian makam.
Serta kedamaian bagi jiwa dalam sumur keabadian.


Kau ceritakan padaku bahwa cinta adalah kegelapan
Kutawarkan padamu sayap-sayap di atas gelombang yang mengamuk
Bangunlah! Karena sunyi telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para pejalan kaki.
Dan rasa kantuk telah memeluk roh setiap hamba
Sementara aku terbangun sendiri dengan rasa rindu yang membukakan kertas surat tidurku.


Pikiranku berhias kenangan yang menyingkap keburaman senja
Keletihan pagi dan kegundahan malam.
Timbulkan mimpi-mimpi kebimbangan melanda serpihan yang lemah
Dan aku mendengar rintihan pahitnya.


Kini kau menjadi suatu lingkaran cahaya
Di sekeliling matahari yang tiada berawal dan tiada berakhir
Melingkari semua yang ada
Membuat segalanya damai dalam keabadian.


Ketahuilah!
Sebelumnya aku hanya mendengar jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia.
Tapi sekarang aku belajar mendengar keheningan.
Yang bergema dan melantunkan lagu dari zaman ke zaman.
Menyanyikan nada langit dan menyingkap tabir kerinduanku...

31 Juli 2011

It All Ends Now

Setelah beberapa tahun yang lalu aku bertahan untuk sebuah ketidakpastian, aku mulai meninggalkan harapan itu bersama waktu yang ditakdirkan. Sembari memejamkan mataku yang basah ditelan kepedihan yang selalu kusimpan dalam-dalam. Ku hela nafasku panjang dan menundukkan wajahku yang muram. Seakan ku tak ingin menatap kehidupan yang berada tepat di hadapanku. Sebab kehidupan itu terlihat menyakitkan bahkan amat menyakitkan. Ku tak bernyali melihat apa lagi melangkah menuju kehidupan itu. Semua terlihat pudar tanpa ada seberkas puing-puing keindahan yang tersisa.
Kurasakan kepedihan itu dibawah langit-langit kamarku. Tetes demi tetes air mata ini menjatuhi sarung bantalku. Namun, aku terus membiarkan tubuhku yang terbujur kaku diatas ranjang. Gadis macam apa aku ini? Tak lama aku mendengar suara terbesik halus menghinggapi telingaku. Suara itu berkata, "Hanya gadis tak tau diri, yang rela membiarkan dirinya jatuh kedalam keputusasaannya sendiri".
Perlahan ku raih telepon genggamku sembari menahan gemetir tanganku. Kubaca setiap pesan yang dikirim olehmu beberapa menit lalu. Sudah kukira jika setelah kubaca pesan itu, hati ini semakin terasa nyeri.
"Pesan itu sungguh Biadab !" 
Ya Allah, jika perlu aku mati untuk melupakan semua hal yang telah terjadi, maka LAKUKANLAH. Aku sudah kehabisan akal untuk mengetahui bagaimana cara menyikapi perasaan yang kutanam sendiri. Jika memang kematianku bisa mengakhiri semuanya, aku rasa hal itu tidak sebegitu buruk.

9 Juni 2011

4 Juni 2011

why are you dont know what the reasons ?

Sebelum aku merasakan perasaan yang menjijikkan ini, aku bagaikan kunang-kunang yang bebas berjalan di kegelapan. Seperti tidak ada kabut penghalang yang menghalangi langkahku untuk terbang di dalamnya. Tanpa ingin kuterangi pun, kegelapan itu tak pernah memintaku untuk selalu meneranginya. Kegelapan itu tak pernah menghiraukan kehadiranku. Sesaat aku hadir maupun setelah aku pergi, kegelapan tidak pernah bahkan tidak ingin memalingkan sedikitpun perhatiannya ke arahku.
Namun, ketika aku merasakan perasaan yang menjijikkan ini, mengapa Tuhan mentakdirkan aku untuk selalu menerangi kegelapan itu ? Apa tiada hal lain yang bisa aku lakukan selain kewajiban mutlak yang harus aku lakukan ini? Seandainya, kegelapan itu tahu mengapa aku selalu meneranginya, aku takkan segan bermalam panjang sampai kegelapan itu lenyap tergantikan siang. Bahkan aku rela mati menunggu kegelapan ditengah teriknya elegi sang pagi. Tapi kenyataanlah yang menyadarkanku. Kegelapan itu tak mengerti alasan mengapa aku meneranginya.
Kegelapan malam itu seolah hanya mengetahui alasan mengapa lampu jalan meneranginya. Hanya itu. Padahal, tak setiap waktu lampu lampu jalan itu meneranginya. Lampu-lampu itu menerangi kegelapan hanya jika listrik desa sepanjang jalan tak putus diterjang hujan. Tapi aku? Akulah kunang-kunang bodoh yang selalu menerangi kegelapan tanpa menghiraukan seberapa peduli kegelapan itu dengan keberadaanku.
Aku memohon kepada Tuhan agar aku bisa meninggalkan kegelapan yang tak pernah pedulikanku. Maka dari itu, Tuhan Yang Maha Pemurah memberi pilihan kepadaku. Jika aku ingin meninggalkan kegelapan yang seharusnya aku terangi, aku harus mati. Namun, aku akan tetap hidup jika aku masih tetap menerangi kegelapan dan menahan perasaan sakit tanpa hirauan kegelapan yang aku terangi.
Jika Tuhan megizinkan aku akan memilih mati dan meninggalkan seberkas cahaya yang tersisa untuk kegelapan yang dulu benderang karena cahaya yang kuberikan. Mungkin setelah aku mati kelak, perlahan kegelapan itu akan menyadari alasan selama ini aku meneranginya dengan ketulusan.



1 Juni 2011

how about you ?

Ketika aku tidak bisa merasakan sesuatu yang seharusnya bisa aku rasakan, aku tidak pernah berpikir untuk melupakanmu. ketika kurasakan sesuatu yang seharusnya tidak aku rasakan, aku tidak pernah inginkan untuk sejenak berhenti mencintaimu. namun, apakah ketika semua yang aku rasakan tadi juga kau rasakan persis dalam hatimu? Atau kau hanya pura pura merasakan hal itu ketika kau berada tepat didepan pandanganku?
Mungkin kau tak mengerti tentang apa yang saat ini kutuliskan. Yang saat ini kurasakan bahkan yang ingin kuberitahukan. Pikiranku sangat abstrak untuk kau mengerti. Begitu juga dengan aku yang sulit mengartikan betapa rumitnya pikiranmu, bukan?
Hal inilah yang kini aku pertanyakan pada blogger yang berfungsi sebagai buku harian kapanpun aku mau. Sebenarnya, apa saja yang sedang kamu pikirkan tentang aku ? Apa aku cukup menjadi seorang perempuan yang terlihat bodoh karena mencintaimu ? Apa aku cukup idiot menjadi seorang teman yang menikam seolah ingin memilikimu ?
Ah, sepertinya aku terlalu berlebihan menceritakan sesuatu tentang dirimu. Dan aku tahu kau pun tidak berlebihan seperti ini saat membicakan soal aku.
Haha, begitu bodohnya aku merasakan perasaan konyol seperti ini.

14 Mei 2011

6 Mei 2011

someone that i love

tak ada yang memaksaku merasakan hal semacam ini. tak ada yang menyuruhku untuk membuat perasaan ini nyata sedemikian. dan tak ada yang mencoba merubah perasaan ini. termasuk aku.
aku hanya melakukan apa apa yang baik dari hatiku. tak pernah sesekalipun aku mencoba mengelak apapun yang diperintahkan olehnya. dan tak penah sedetikpun aku menghindar dari perasaan hati yang membawaku menuju kenyataan.
aku tahu perasaan ini takkan mati. dan aku juga berharap kelak perasaan ini abadi. namun, kenyataanlah yang membuat hal ini terjadi. aku tak dapat berlari menuju dunia khayal yang mati. namun aku dapat lukiskan perasaan ini dalam alunan lagu yang kusukai.
perlahan kulangkahkan kaki. berjalan diatas mimpi yang tak mungkin kuraih. tahukah kau kini ku tertatih ? menjamah jiwa yang tak terbalaskan oleh hati yang pedih.
mycp : kenapa waktu dulu aku suka sama kamu, kamu malah nyuruh aku buat jauh dari kamu. sekarang aku udah menjauh dari kamu, eh kamu malah punya perasaan kayak gini, mar !
msap : iya, aku memang bodoh.
mycp : perasaan itu nggak pernah salah mar !
msap : memang. bukan perasaanku yang salah. tapi aku yang benar benar bodoh !
mycp : terus, apa yang kamu harapkan dari aku ?
msap : kayaknya nggak ada.
mycp : leh ? maksudmu ? nggak ada yang kamu harapkan, terus buat apa kamu punya perasaan kayak gini mar ?
msap : aku nggak ngerti maksud dari hal bodoh yang aku rasain ini.
mycp : coba kamu resapi lagi. terus cari maksud dari perasaanmu itu.
msap : oke. aku nggak ngerti dan gak akan pernah ngerti sama hal ini. kalo kamu nanya mau ku apa, sumpah aku nggak ngarep apa apa. apa kalo aku sekedar ingin merasakan perasaan yang selama ini belum pernah aku rasain itu salah ?
apa cinta itu harus dibalas oleh cinta juga ? menurutku enggak. dan meskipun aku masih punya perasaan ini, aku nggak punya hak buat maksain kamu memiliki perasaan yang sama buat aku !
mycp : (hanya bisa tersenyum)
msap : (tolah toleh koyok arek dobol)