17 Maret 2014

Lelah

Sudah lama aku mencari diriku. Bahkan hingga terlalu lelah. Sampai dimana kelelahan itu masuk dan merusak sel-sel dalam sistem jaringan tubuhku. Membuyarkan jaringan-jaringan dalam sebuah organ dalamku.
Hatiku... 
Aku terlalu kejam mengoyaknya dengan tanganku sendiri. Menikam nurani didalamnya dengan dosa yang kuperbuat setiap hari. Bukan lagi perasaan cinta yang mengoyak dan menikamnya, melainkan keterpaksaan untuk membuatnya sempurna.
Mataku...
Pupilnya telah mengecil, dan selaput kornea pun telah memerah. Rabun. Kantungnya pun telah membengkak. Bukan insomnia, melainkan ketidaksengajaan cairan dari dalam mataku keluar terus dan terus.
Kakiku...
Aku terlalu tega memaksakannya berjalan sangat... sangat... dan sangat... jauh. Hingga telapaknya retak dan kukunya bernanah. Bukan untuk mendaki, namun mencari tujuan yang sampai saat ini belum bisa kuraih.
Sampai kapan aku bisa memenangkan diriku sendiri?
Ketidaknyamanan ini menyiksa. Kesakitan ini mematikan. Dan...
Kebutaan ini menyesatkanku.
Mungkin, memang untuk meraih kemenangan itu tak pernah ada dalam kenyamanan...

3 Februari 2014

Me-ta-mor-fo-sa

Tidak banyak orang menyadari bahwa telah terjadi perubahan dalam dirinya, dan membiarkan perubahan itu terjadi sebagaimana mestinya. Tapi, nggak banyak orang pula menyukai perubahan. Perubahan pada hati misalnya. *eh* *fokus fokus fokus*
Bukan perkara hati, melainkan jiwa. Karena apalah arti seonggok hati, tanpa ada sebuah jiwa yang membuatnya utuh. Sebuah jiwa yang rapuh akan melahirkan hati yang ringkih. Dan sebuah jiwa yang teguh akan membuat sebuah hati yang meskipun bersuasana gaduh akan terasa damai.
Bukan perkara raga, melainkan karakter. Karena apalah arti dari seonggok raga yang bergerak, tanpa ada sebuah karakter yang hidup didalamnya. Sebuah karakterlah yang memunculkan presepsi dari setiap mata yang menilainya. Menimbulkan beberapa prasangka-tak-bertanggungjawab yang berawal dari rasa keingintahuan untuk sekedar mengenal karakter itu lebih dekat. 
Jadi, bagian dari tubuh mana yang bermetamorfosa? Hati? Jiwa? Raga? Atau karakter? 
Jika salah satu dari mereka bermetamorfosa; Bagaimana mekanisme, siklus, gejala, perubahan dari bentuk 'apa' ke bentuk 'apa', dan segala bla bla bla lainnya. Maka kemudian hadirlah tanda tanya yang mengantarku menjamah halaman blog lusuh dan berisi tulisan sampah seorang remaja labil yang (dulu) usianya belum menginjak angka kepala 2 ini. Yaudasik, bolehlah menghiraukan kalimat kedua terakhir sebelum kalimat ini.
Dengan ritme rasa keingintahuanku yang lebih besar dari biasanya, aku tetap mencoba menyelami pertanyaan-pertanyaan itu, meskipun akhirnya aku tenggelam. Apa cuma aku yang tak memahami diriku? Entahlah. Aku masih tenggelam. Ya, tidak hanya terhanyut namun lebih parah lagi.
Aku tak mau menenggelamkan diri terlalu lama. Sesak. Maka, aku coba untuk menyudahinya. Dan aku berhasil. 
Tenang... tenang... tenang...
Dan ketenangan ini yang menjadikan titik terang itu menggumpal.
Oke...
Perubahan ternyata tidak selalu baik. Perubahan juga bisa menjadi ketakutan bagi pemiliknya. Dan satu-satunya perubahan yang aku takutkan adalah perubahan yang positif, namun melewati jalan yang salah. Ketakutan yang semena-mena menyerang dada sampai tulang rusukku, menjadikan darahku mendidih, dan menghubungkan saraf-saraf neuron di otakku lebih rekat dari biasanya. Lalu aku bisa apa? Jika memang benar adanya bahwa ketakutan itu benar benar dekat dengan tulang rusukku yang hampir patah, terkandung dalam darahku yang mendidih, dan senantiasa berada tepat pada sambungan neuron di otakku........
Semua orang ingin menjadi dewasa, bukan? Semua orang ingin punya aura kewibawaan yang berlimpah, bukan? Semua orang ingin menunjukkan pada semua orang bahwa mereka adalah orang-orang yang berkualitas, bukan? Ah, Klise.
Semua itu boleh jadi tujuan dari perjalanan bermil-mil kita selama hidup di dunia. Tapi, kebanyakan dari kita tidak tahu bagaimana menuju tujuan yang positif itu dengan jalan yang benar. Kebanyakan dari kita, tahu mana jalan yang seharusnya dilalui, tapi terkadang kita 'merasa' tersesat. 'Merasa' bahwa sepertinya bukan jalan ini yang seharusnya dilalui. Sehingga, mereka yang demikian cenderung memaksakan dirinya untuk memilih jalan lain yang sebenarnya adalah jalan yang membuat mereka benar-benar tersesat menuju tujuan. Itu yang aku alami. Bahkan bagaimana cara berteriak pun aku tidak mampu. Lalu apa yang harus aku lakukan? Menunggu ada orang lain yang juga tersesat, dan mencari jalan bersama? Atau membiarkan diriku mencari jalan keluar sendiri?
Entahlah.....................................

1 November 2013

Tuhan..........

Tuhan, mengapa Kau ciptakan manusia untuk menciptakan beberapa agama? Mengapa sejarah dunia terlalu panjang dan berbelit-belit menceritakan bagaimana suatu agama diciptakan? Mengapa seluruh manusia di muka bumi ini tidak menyembahMu dengan cara yang sama, Tuhan?

Tuhan, Kau tahu bahwa aku selalu menyebut namanya dalam setiap ayat-ayat Mu usai sembahyang ku. Apakah jika aku menyebut nama seorang kristiani dalam ayat-ayat Mu adalah sebuah dosa yang akan ku pertanggungjawabkan nantinya? Apakah jika seorang muslimah mencintai seorang kristiani merupakan suatu kesalahan? Jawablah semua pertanyaanku, Tuhan. Tentang semuanya. Karena Engkaulah sumber kebenaran.

Tuhan, apakah benar jika seharusnya aku mencintai seorang laki-laki yang juga mencintaiMu?
Jika benar, aku yakin aku sudah berada dalam keharusan itu. Setiap minggu, dia selalu menyempatkan waktunya untuk sejenak menyapaMu di gereja. Apa dia termasuk orang yang tidak mencintaiMu? Sama seperti aku. Setiap hari, aku selalu menyempatkan waktuku sejenak untuk bersujud memohon ampunan dari Mu. Apakah aku termasuk orang yang tidak mencintaiMu? Tuhan, aku rasa dia mencintaiMu dengan sepenuh hatinya. Hanya saja dia punya cara lain untuk mencintaiMu. Cara lain yang berbeda dengan apa yang Kau ajarkan kepadaku.

Tuhan, ingin rasanya aku menyerah dan menyandarkan lelahku dalam dekapanMu. Aku lelah mencintai seorang lelaki yang 'kata orang-orang' berbeda. Aku lelah meyakinkan semua orang, bahwa aku dan dia sama-sama mencintai Mu, Tuhan. Jika memang kenyataannya Kau menilai kami tidak mencintaiMu maka hukumlah kami. Namun setelah Kau jatuhkan hukuman itu, buatlah kami semakin mencintaiMu Tuhan.

Kalaupun nantinya Kau tak ijinkan kami bersatu, maka jodohkanlah kami dengan seseorang yang benar-benar mencintai Mu, Tuhan. Jangan Kau perintahkan air mata ini mengalir karena kesedihan. Jadikan air mata yang mengalir ini adalah air mata rasa syukur kami karena keindahan takdirmu. Perkenankan kami bahagia dalam keikhlasan.

Tuhan, jodohkanlah dia dengan wanita yang benar-benar mencintainya dan juga mencintaiMu. Jodohkanlah aku dengan laki-laki yang benar-benar mencintaiku dan juga mencintaiMu. MencintaiMu dengan cara yang sama.......

4 Agustus 2013

He's the right man, but...........

Aku percaya takdir Allah..
Yang menjanjikan bahwa ada saatnya seorang laki-laki menemukan sepotong tulang rusuknya yang hilang. Dan akan ada saatnya pula seorang perempuan yang tercipta dari tulang rusuk laki-laki akan menemukan pemilik tulang rusuk yang akan menjadikannya sempurna. 
Jelaslah aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Allah menjadikan semua terasa nyata, bagaimana Dia memutar balikkan perasaanku yang kini sedemikian rapuh, dan mungkin aku tak ingin tau alasan mengapa Allah menciptakan seorang laki-laki yang kini singgah dan akan segera pergi..
Aku percaya..
Setiap perempuan bisa menemukan dimana 'pemiliknya' berada. Yap, pemilik tulang rusuk yang menjadikannya utuh. Dan ketika kamu menawarkan bahumu, aku merasa telah temukan 'pemilikku'. Kamu tau? Aku seperti berada di tempat yang selama ini aku cari. Tempat dimana aku berasal. Dekat dengan dadamu. Dekat dengan tulang-tulang rusukmu. 
Jika memang kamu adalah laki-laki yang menjadi rumah dimana aku akan kembali, terima kasih karena kamu sudah rela kehilangan satu potong tulang rusukmu untuk menciptakan aku. Dan aku akan bahagia jika rumah itu adalah kamu.
Tapi...
Kamu adalah bentuk nyata dari ujian yang akan kuselesaikan. Bagaimana mungkin seorang perempuan yang telah menemukan rumahnya, berkata bahwa ini adalah sebuah ujian? Hm..
Aku ingin mencintai dia karena Mu, ya Allah. Dan aku juga ingin dia mencintaiku karena Engkau.
Ya Allah..
Jika aku dan dia memang tercipta untuk bersatu, aku yakin Engkau dan Tuhan-nya akan memberikan jalan.
Jika aku dan dia memang tercipta untuk bersatu, aku yakin tidak akan ada keluarga yang sedih ketika kami bahagia.
Jika aku dan dia memang tercipta untuk bersatu, aku yakin seberapa jauh aku menghindar aku akan kembali pada rumah yang Kau ciptakan untukku. Dia...

15 Februari 2013

The Day I Fall in Love


Just an ordinary day, started out the same old way. Then I looked into your eyes and knew. Today would be a first for me. The day I fall in love..

On the day I fall in love. Sky will be a perfect blue. And I'll give my heart forever more
To someone who is just like you. At the day I fall in love..

People all say love is wonderful. That the bells will ring, the birds will sing
The skies will open. I wonder where's that great big symphony. Roll over Beethoven, won't you play with me?

And I'll never promise to be true to anyone. Unless it's you, unless it's you. The day I fall in love.. (again)

11 Februari 2013

A phase of change.

Hai! 
Oke, kali ini aku nggak mau nge-posting sesuatu yang galau galau. Karena kalo dipikir pikir umur udah hampir seperlima abad tapi masih galau itu bisa mengurangi presentasi ke-cakep-an. Percaya nggak percaya sik. Sugesti nggak sugesti juga. Tapi gak tau kenapa aku sendiri mengalami kejadian terkutuk ini. Tapi tapi tapi, fine fine aja sih buat remaja ABG jaman sekarang yang notabene udah menjadi suatu kewajaran....... yang nggak lazim.
Nah loh bingung kan? Wajar tapi nggak lazim. Udah nggak usah diambil pusing. Heuheuaue.

Emang sih galau itu wajar. Galau itu salah satu cara kita mengkonversikan perasaan menjadi suatu bentuk ekspresi wajah ataupun dalam bentuk kata-kata yang melankolis. Ada pepatah yang diciptakan oleh salah satu anak abg yang sedang ingin mendadak gaul. Dia bilang kalo, "Nggak galau, nggak gaul". Dan bego nya lagi, salah satu anak kurang gaul kayak aku jadi gampang terpengaruh sama pepatah yang kurang bertanggung jawab macem itu. Saking pengen banget dibilang gaul, akhirnya aku mencoba untuk galau.

Sudah berbulan-bulan menggalau, tapi nggak ada satupun orang yang menyematkan gelar 'anak gaul' buat aku. Sejak saat itu, barulah aku mulai mikir. Usut demi usut, ternyata pepatah "nggak galau, nggak gaul" adalah pepatah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan maknanya. Jadi, aku banting sentir dan berpindah haluan ke jalan kebenaran. Jalan dimana kegalauan dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri-ke-perasaan. Hualaaah halah.

Setelah fase fase ter-absurdbsbcxvs dalam hidup ini terlewati, ternyata cobaan masih belum berakhir. (Backsound: Tobat - Opick)

Ada nih satu makhluk berumur 18 tahun 1 bulan. Sebut aja Re (nama sebenarnya). Seperti biasa, bukan anak gaul. Kalo dia gaul, kita nggak mungkin saling kenal. Karena anak gaul sama anak nggak gaul itu habitat nya udah beda. Huihihi bukan maksud apa-apa sih, hanya aja kita gak mau cerita kita disamain sama cerita nya ftv yang terkenal dramatis. Misalnya, suatu hari ada cowok gaul kece abis,  tiba-tiba deket aja gitu sama cewek cupu katrok berkacamata minus. So dramatic. Kwuk!

Jujur, aku lebih suka cerita hidupku sendiri daripada cerita drama ftv. Karena the writer of my life stories is God. But the writer of the ftv dramas is just a human. Jadi, bersyukur banget lah ada campur tangan Tuhan di setiap alur cerita kehidupanku yang nggak selalu maju dan nggak selalu mundur. So, thank God! You gave him to me, even though I know it may take just a little while.

6 Februari 2013

Kenyataan dari Sebuah Mimpi

Tiap Malem..
Aku mencoba memejamkan mataku. Tertidur tanpa lelap dan memimpikan kamu......

Orang dulu bilang, "Kalo kita memimpikan seseorang, seseorang yang di mimpi kita itu sedang merindukan kita". Entah orang dulu memang sudah pernah melakukan sebuah observasi untuk mengetahui ke-a-ku-rat-an pernyataan itu atau cuma mitos. 
Yang pasti, kenyataan itu lebih indah daripada sebuah mimpi. 
Kenyataan itu bisa dinikmati lebih lama. Sedangkan mimpi, hanya beberapa jam saja sebelum aku terjaga. 
Kenyataan itu pasti. Mimpi itu semu. 
Sebuah cerita dalam kenyataan bisa dimulai kapanpun, dan diakhiri kapanpun aku mau. Tapi cerita dalam mimpi, selalu memulai dan mengakhiri ceritanya kapan saja, meski aku tak menginginkannya terjadi ataupun berakhir. 

Tapi, keduanya memiliki kesamaan. Sama-sama ada yang manis dan pahit. Kenyataan itu nggak selalu pahit, tapi dibalik kepahitan itu ada hikmah yang akan berbuah manis.
Begitupun dengan mimpi. Mimpi yang manis juga nantinya akan pahit setelah terbangun, kan? 
Intinya, kehidupan itu punya dua sisi yang selalu berdampingan. Dan aku........ Aku hanya bisa menjalani dua sisi yang sudah digariskan Tuhan.

Ya!
Setiap orang selalu menginginkan mimpinya menjadi kenyataan. Tapi dalam ilmu fisika, ada istilah dilatasi waktu yang membatasi keduanya. Membutuhkan energi yang maha dahsyat untuk menjadikan mimpi-mimpi ku yang indah menjadi kenyataan.
Kenyataan yang sama indahnya dengan mimpi-mimpi itu.

Tapi apalah arti sebuah ke-maha-dahsyat-an energi, jika hanya aku yang berusaha mengeluarkan energi-energi yang hingga saat ini masih belum mampu menjadikan mimpi itu menjadi nyata?
Jika hanya aku yang mengeluarkan energi-energi itu sedangkan kamu tidak, maka apakah kamu tidak ingin menjadikan mempi-mimpi itu menjadi nyata seperti apa yang kuinginkan?

Apa yang harus aku lakukan? 
Apa kamu bisa menyarankan sesuatu agar keinginanku bisa ku raih, tanpa bantuanmu?

Ketahuilah, aku tak akan bisa mewujudkan semua keinginan itu tanpa kamu. 
Tapi mana mungkin perempuan yang tidak pernah melintas di pikiranmu ini, tiba-tiba meminta bantuanmu untuk mewujudkan semuanya..........?!????!!!

Apakah aku masih harus menunggu waktu yang selalu akan menjawab semuanya?
Apakah aku harus membuang jauh-jauh keinginan itu untuk diwujudkan?
Aku memprediksikan pertanyaan terakhirku akan kamu jawab dengan satu kata dua huruf, yaitu "Ya"....................

27 Januari 2013

Awal dari Sebuah Akhir

Sebelum 'kisah yang baru' ini dimulai, aku sudah hafal bagaimana membaca sebuah hati. Aku sudah tamat menikmati berbagai jenis hati yang tercipta untuk menyatukan potongan hatiku yang sudah tak utuh lagi. Namun, tak semua hati cocok untuk memperbaiki sebuah hati yang rapuh dan lama tak terjamah. Apalagi hati yang dulunya udah dirusak. Dan hati yang udah rusak belum tentu bisa dicangkokkan untuk hati yang udah rusak juga, kan?

Analogi barusan udah cukup menggambarkan aku sama kamu. Tapi itu dulu. Dulu, kamu datang dalam hidupku dengan membawa luka yang kamu punya. Saat itu, kamu sedang mencari seorang pengganti untuk mengobati luka yang seakan-akan membuatmu sekarat. Dan seakan-akan pula kamu mempercayakan aku untuk menggantikan orang terdahulu yang memberimu luka itu. Hmmm bodohnya lagi, aku mempercayai kata 'seakan-akan' yang telah aku buat sendiri. Itu hanya sebuah perumpamaan yang klise. Mungkin akan lebih dimengerti lagi jika aku mengatakan bahwa, "aku sudah salah mengartikan perhatianmu


Kamu tau nggak? Coba kamu luangkan waktu mu sebentaaaarrr aja. Coba kamu pikir, gimana hatiku yang sudah terlanjur mengharapkan hatimu untuk 'menyambungkan potongannya', tapi kenyataannya hanya cuma sebuah ilusi yang sampai sekarang belum bisa ku raih.............................

Penyataan barusan itu cuma ungkapan kata-kata ironi yang mungkin sulit kau pahami. Namun ketahuilah, mengartikan perhatian yang selama ini kamu kasih buat aku itu lebih sulit dari apapun. Sampai sampai aku salah kan mengartikan semuanya?

Maaf, karena selama ini aku sudah salah memahami. Maaf pula aku tidak menyempatkan waktuku menyampaikan semuanya ke kamu. Tapi kamu harus tau, semua ini telah berakhir.


Tuhan sudah menjanjikan bahwa, "Akan ada sebuah awal setelah sebuah akhir berlalu". Dan kamu tau? Janji Tuhan itu nyata.


Aku dan kamu  (kita) memang nggak punya ribuan kenangan.  Tapi aku bersyukur bisa mengenal orang yang salah seperti kamu. Dengan mengenal orang yang salah, aku bisa belajar bagaimana agar aku tidak jatuh pada lubang yang sama. Dengan mengenal kamu, aku memahami jika suatu hari nanti akan ada sebuah hati yang akan menyatukan hatiku yang telah hancur. Dan suatu hari nanti pula, akan ada sebuah hati yang akan menyatukan hatimu kembali...


Mungkin setelah ini tiada kata "kamu" lagi dalam catatanku. 

Setelah "kamu", aku akan mengawali kisah yang baru dengan kata "dia"...

7 Desember 2012

Mengapa bukan kamu?

Mungkin memang benar bahwa tak selamanya hitam itu gelap. Putih itu terang. Dan indah itu pelangi. Buktinya, aku tidak bisa melihat kebenaran dalam sisi yang terang. Juga tak mampu melihat keindahan pada garis-garis pelangi. Hanya satu kata yang ingin kutanyakan padamu.....
"Mengapa?"
"Mengapa bukan kamu yang menjadi putih dalam hitamku?"
"Mengapa bukan kamu yang menjadi pemanis dalam pahitku?"
"Mengapa bukan suara nyaringmu yang menjadikan sepiku terlelah?"
"Mengapa bukan hela nafasmu yang menjadikan paru-paru dalam dada ku sejuk?"
"Mengapa bukan kamu yang membuat segalanya menjadi benar dan begitu nyata?"

Sebegitu sulitkah kamu menjawab semua pertanyaan ku? Sampai kapan lagi kamu diam?

Karena aku terlalu lelah bertanya. Dan aku sudah terlalu jemu menanti jawaban yang sebenarnya bisa ku jawab sendiri.

"Karena semua terlihat hitam, jika putih itu bukan kamu"

"Karena semua terasa pahit, jika manis itu bukan senyummu"
"Karena semua terdengar samar, jika nyaring itu bukan suaramu"
"Karena semua menyesakkan, jika kesegaran itu tak kurasakan dari nafasmu"
"Karena semua yang kuraba itu salah, jika kebenaran itu bukan kamu"

21 Oktober 2012

A different between.............

Hai bloggeeeer~
Long time no write here!!! Rasanya sih pengen banget nulis blog tiap hari, biar dapet reward dari bupati Inggris lah minimal. Tapi apa daya, tugas dari kampus itu ibarat air terjun. Yap, gak pernah berhenti mengalir-_-
By the way, aku itu termasuk golongan manusia yang emang bener-bener nggak tau diri ya. Gimana enggak, blogger yang susah susah diciptain sama orang-orang bule di luar sana; muter-muter otak untuk ngubah tampilan blogger; cuma aku jadikan sebagai ajang "penyampahan". Jadi buat kalian yang agak-kurang-gaul, "penyampahan" itu adalah suatu kegiatan tidak bermanfaat dalam rangka membuang waktu disertai penyampaian isi hati di kala itu. Kalo kalian yang agak-kurang-gaul, apalagi agak-kurang-pinter memahami kata-kata seorang amatir kayak aku, saran ku sih jangan capek-capek muter otak kalian deh. Karena bentar lagi aku mau ngasih contoh real nya:

Jadi pada suatu hari ada seorang gadis yang cupu. Sebut saja Bunga (nama disamarkan). Tidak ada yang spesial dari gadis ini. Pesona, aura, inner beauty nya juga biasa saja. Namun, ditengah ketidak-sempurnaannya itu, gadis berumur 18 tahun itu memiliki sahabat laki-laki yang selalu ada saat bunga sedang senang maupun sedih. Sebut saja Sueb (nama dikeramatkan). Karena adanya Sueb, bunga tidak terlalu hampa tanpa adanya seorang kekasih. 
Namun, dalam rangka menghindari kata "munafik", Bunga juga tak ingin kalah dari teman-temannya yang sudah memiliki seorang gebetan (sebut: calon pacar). Sudah lama bunga menunggu dan mengidam-idamkan calon pacarnya itu, sebut saja Pi'i (nama dirahasiakan). Pi'i bukan merupakan lelaki yang tampan, pintar, maupun modis, namun Pi'i adalah lelaki idaman wanita (bahasa gaul: cokiber / cowok kita bersama). Entah apa yang membuat wanita tertarik dengan Pi'i. Namun menurut Bunga, Pi'i adalah sosok yang berwibawa dan jujur. 

Nah, pengenalan tokoh nya udah sekarang konflik ceritanya. Setelah 1 tahun Pi'i mendekati Bunga dan Bunga pun merespon maksud dan keinginan Pi'i, terjadilah suatu konflik. Konfliknya adalah Pi'i mengira Bunga dan Sueb menjalin hubungan yang lebih dari sahabat. Akhirnya, Pi'i menjauh pelan-pelan dari Bunga. Setelah kepergian Pi'i dari kehidupan Bunga, ia pun sangat sedih. Selesai..........................

Simple ya. Tapi ini yang aku alami huehaueahuae..
Cuma ngasih tau aja sih, dimana-dimana perasaan sayangnya ke temen sama sayangnya ke orang yang spesial itu udah jelas beda. Sudah ada klasifikasi nya sendiri-sendiri. Kalau ditanya seberapa besar kadarnya juga nggak bisa. Ibarat membedakan kecoak Madagaskar, sama serbet Mexico. Karena teman itu tak terhingga dan orang spesial itu selamanya. 


21 Mei 2012

Dimensi Ruang Hati

"Sebelumnya, maaf kalo postingan kali ini sedikit menye-menye. Kalau udah terlanjur buka blog ini terus langsung ilfil sama postinganku, langsung close tab aja deh daripada nyesel. Muehuehue."
Ehm ehm, tes tes tes................................


Kalaupun aku berkata bahwa, aku akan bahagia melihatmu bahagia itu adalah hal termunafik yang pernah ku ucapkan. Tentu ada sedikit serpihan kesedihan yang tergores dibalik senyumku. Bukan aku tak ingin melihatmu tersenyum bahagia, melainkan bukan aku yang membahagiakanmu. Semacam mencabut "namamu" yang telah ku pahat kuat-kuat dalam hati. Sakit. Nggak gampang. Dan melukai sebagian hati yang telah patah.
Keterpurukan adalah suatu kepastian. Namun aku berpikir bahwa dibalik keterpurukan itu terdapat dua dimensi yang membuat aku menjadi semakin kuat maupun rapuh. Kekuatan itu kudapatkan dari sahabat yang selalu menyertai kisahku. Merekalah yang mengajarkan bagaimana menjadi seorang yang konsisten dalam memerankan diri sendiri dalam sandiwara kehidupan, merekalah juga yang menyadarkanku bahwa hidup itu indah, sehingga rugi jika ku sia-siakan. 


Tak dapat kupungkiri bahwa ada suatu keterpurukan di sisi berikutnya. Sisi yang ingin ku acuhkan, dan hindari. Satu sisi dimana Tuhan menyiapkan bumerang tajam untukku. Yang siap menerkam ku mentah-mentah. Dan tak ragu membunuhku perlahan. Dalam sekaratku, aku terus bermunajat. Memohon. Meminta. Dari situlah lahir sebuah semangat kemudian tegas membangkitkanku.
Untuk sementara aku akan membiarkan sajak-sajak yang kau lukiskan membekas dan melumuti pikiranku. Bukan apa-apa. Hanya saja, aku belum menemukan pena lain yang mau menyanyikan sajaknya halus dalam sanubari.


Namun, kalaupun aku berkata bahwa aku belum menemukan sajak-sajak lain, aku tidak hanya membohongi diri sendiri, melainkan orang lain pun telah ku bohongi. Telah kutemui pena yang menyentuh perlahan dalam relung. Melukiskan sajak-sajak yang jumlahnya tak sebanyak dan seindah sajak berlumut sebelumnya. Namun sajak yang diciptakannya ini dapat membuatku belajar melangkah dan menentukan arah. Mungkin sajak yang diciptakan dari pena inilah takdir yang memaksa jalanku terus mengikutinya.

7 Mei 2012

My 18th

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh...

Lama yaaa nggak nge-blog lagi setelah lama berkecimpung dalam urusan USEK, UNAS, perpisahan, intensif SNMPTN dan hal-hal lain yang selalu bikin aku keliatan sok sibuk. At least, gara-gara kesibukan-kesibukan itulah yang buat aku jadi lupa hari, lupa waktu, sampek sampek lupa diri juga. Sebenernya anak-anak kelas kayak Aten, Embun, Romana, dan Gita udah wanti-wanti mau minta tagihan buat neraktir mereka pas tanggal "keramat" itu. Tapi nggak tau kenapa, karena 13 April itu H-3 UNAS, aku jadi lupa tanggal. 

Tiba-tiba aja paginya Si Uti nyamperin aku, nyium pipiku, sambil nyodorin uang jajan yang lebih banyak dari uang jajan sebelumnya. Biasanya cuma dikasih antara 5ribu-10ribu, hari itu aku dikasih lumayan laaah, 30ribu. Buat aku, dikasih uang 30ribu secara cuma-cuma tanpa embel-embel omelan itu adalah "sebuah barokah". Semacem kejatuhan duren.............. Duren tanpa duri tapi.........
Katanya sih buat jajanin anak sekelas. Ya, beliau bilang "Buat jajanin anak SEKELAS". Gak gendeng -____- 

Utiku semacem menghina deh kayaknya, dia udah nganggep aku udah nggak bisa itung-itungan lagi. Mana bisa di jaman "Mak Lampir Milenium" kayak sekarang uang 30ribu bisa jajanin anak sekelas yang jumlahnya 32 anak? Kalau yang ini semacem menegakkan benang basah men..............
Oke, sedikit nestapa sambil mikir-mikir mau diapain itu uang. Jiah, sok gaya mikir banget kayak 30ribu itu 30juta aje. Muehahaueheu.

Sampek Sekolah............ aku dicuekin gitu aja men. Nggak ada pelukan hangat, dan ucapan ulang taun dari temen-temen. Cuma plonga-plongo kayak Kecoak Madagaskar yang lagi kelaperan. Sedih........ Tapi ada 2 pikiran yang terlintas. Antara mereka bener-bener nggak tau kalo aku ultah karena mereka jarang banget buka facebook, dan aku dikerjain. Tapi waktu itu aku lebih memprediksi kalo mereka bener-bener nggak tau kalo aku ultah. Yaudahlah, beginilah nasib orang nggak femes di kelas...................

Udah jam 12 siang lebih 46 menit, tapi anak-anak dikelas lagi pada sibuk mikir strategi jitu buat UNAS besok senin nya. Lagi pada sibuk mikir planing liburan perpisahan ke Malang, dan tentunya mereka nggak bakal sibuk mikirin aku. Lhaaaa ini nih yang bikin pengen cepet pulang. Tapi karena nggak dibolehin sama anak-anak, aku tetep stay di kelas yang udah ngasih aku se-milyar kenangan yang nggak cukup kalo tak kantongi. #Tsaaaah #UdahAgakSeneng #MikirPastiAdaSurprise

Selesai rapat membosankan yang bikin aku nguantuk, tiba-tiba si Embun ngajakin foto-foto bareng sebelum UNAS. Yaaah, anggep aja last moment before the war begin lah.
Keliatan kalo suasana adem ayem dan belum keliatan
kalo aku bakal dikasih surprise :-----(
Awalnya aku penasaran kenapa dua cecunguk di belakang itu nggak ikut foto-foto dan muka nya kayak hewan KBS yang lagi seneng dapet temen baru. Aku baru tau setelah Aten dan Embun nyeritain kalo Garis, Si Kuda Nil Alaska sama Rahu, Si Jerapah Somalia itu lagi bawa tali buat..................... Mmmm..

Sialnya aku nggak tau kalo belakangku ada Rahu, Si Jerapah Somalia
udah siap tali buat ngiket aku yang posenya mangap-mangap kayak Kecoa Madagaskar

Beberapa pose kemudian, muncullah makhluk makhluk asing yang tiba-tiba menjerat hatiku #eh badanku. *kelepasan*


Daaaaaaan, aku dikasih sureprise. Asiiiikk...
Pas itu aku berusaha melepaskan diri dari tali yang diiketin ke pohon palem setengah kelapa yang tumbuh di depan kelas. Tapi karena kondisi talinya kenceng banget kayak mau mbeleh sapi, mau nggak mau aku pasrah. And then...................

Sumpah ye, berasa di Mekkah. Disiram air zam-zam :')
Berasa di Switzerland. Dijatuhi hujan salju :')

Dan kayaknya ini moment klimaksnya...........

Makasih lho buat surprisenya Aten, Embun, Gita, Romana,
dan gak lupa anak-anak KOPI TABRAK juga. Suwayang kalian :* ({})
Kurang lebih gini ini lah my real face setelah dibabat habis sama segenap keluarga besar kedua (read: KOPI TABRAK). Jelek nggak jelek yang penting cantik............. (?)

Di free puk-puk-in Romana


Yah, begitulah nasib seorang Kecoak Madagaskar yang nostabene anak paling culun di kelas XII IPA 3 SMA Negeri 16 Surabaya. From the text above, I could conclude that I was getting some happiness enough from them. Bukan apa-apa, tapi aku seneng karena perhatian mereka yang tulus buat aku. Karena sayangnya mereka yang nggak minta imbalan apa-apa dari aku. Karena kebahagiaan mereka yang nggak bisa dibeli dengan ngeliat aku tersiksa dibawah pohon palem setengah kelapa. Itu yang buat aku pasrah diapa-apain sama mereka <3
Anyway, makasih banget buat semua surprise yang kalian kasih buat aku ya anak-anak KOPI TABRAK! Nggak cuman kejutan pas aku ulang taun aja, tapi kejutan-kejutan yang lovable, meaningful, unforgettable, irreplaceable, dan lain lain yang nggak bisa diungkapin dengan kata-kata. Pokoknya semua yang kalian kasih bakal jadi cerita yang menarik buat anak-anak ku kelak. Love you you all yesterday, today, tomorrow, and forever...........

Salam,
Kecoak Madagaskar.

19 April 2012

After all this time, I've been living with a shadow overhead. It called "dreams", "love", "yearning", "happiness", "memories", and...................... "you". 
Hey did you know? There are some secrets i wanna to talk to you. Do you like to read that? If that true, please come in to read this one between your busy time :') 


Mmmm........
By the way, Congratulation!! You win! You can replace his position. You can make me hate him. You can show me that there are so many people sincerely love me, care for me, and will do anything to make me happy. 


Yes, you did! You knew that i was trapping in my past. But you tried to seek me free from that. You knew that i couldn't seem to move on. But you teach me something and said, "Did you know how meaningful your life? You want to wasted that by your self? Please, don't be a fool one!". Therefore now i'm realize. I thought that i was starting to like everything on you!
I don't know how can i do spell my words to showing up this feeling. I ain't a poem-maker. I ain't a romantic person. And I ain't a promise-maker. But, i'm just a little girl who wants to tell you about these. All of these.


I cant lie you're on my mind. Stuck inside my head. I wanna feel you heart beat for me instead. Now, if you're not there, i wanna feel my heart beat like yesterday.
If you want me to say "i love you" for you, so i will say it. Sure, i will do anything. But, in this situation you'll never to be like that. For your information, I will say "I love you" in every time and every where i want. But, will you say this words back into me? Or.....................
Will we never be together? :|


Of course, I'll be happy if you love me back. But if you don't, please do not worrying me. I'm fine enough to face this reality. Mm, so I don't wanna hope anymore. "Hope" is the one word which always hurt me slowly, slowly, slowly, but surely. 


Least, I know what these are symptoms happen to us. 
So could we be in love? The time will answer......................................

30 Maret 2012

Actually bad.

Sepertinya, saat ini waktu sedang mencoba menegurku yang kini muak dengan sebuah keadaan. Ya, keadaan hidup yang belum tentu semua orang merasakan, menerima, dan bertahan dalam keadaan itu. Tapi, sebuah kenyataan terlanjur menyadarkan aku akan pentingnya fungsi "sistem imun" untuk bertahan menjadi seorang yang tegar di tengah situasi sulit seperti ini. 
Aku merasa asing dalam keluargaku sendiri. Yak, itulah titik permasalahannya. Hahaha!!!!! Apa di dunia ini ada seorang anak yang menyerupai aku? Mungkin hanya 1 : 1milyar orang di dunia. Pokok permasalahan inilah yang membuat aku terlihat berbeda dari anak-anak normal lain yang terlihat hangat dengan orangtuanya. Merasa iri? Nelangsa? Sesak? Ya, aku selalu merasakannya.
Aku memang tidak terbiasa ngobrol sama ibuk, sama ayah, atau sama sanak famili lainnya. Bukan karena apa-apa, cuman aku tak bisa mengalahkan sifatku yang cenderung tertutup. Nggak heran juga kalau suatu saat mereka mengajakku sekedar ngobrol atau menanyakan sesuatu, aku selalu menjawab dengan kata-kata seperlunya saja. Contoh: "Kak, ini baju barumu ta? Kok nggak modis banget se? Beli dimana?" | "Emang modelnya gitu, buk. Beli di pasar atom"
*sedikit nggerundel gara2 dibilang nggak modis*


Beberapa Menit Kemudian.................


"Kamu itu mbok ya beli baju model hem aja gitu lho. Sekalian buat kuliah. Nanti model baju kayak gini cuma mbok pakek sekali tok" | "................" #CumaDiem
"Kenapa kok diem? Ngerasa nyesel ta beli baju kayak gini? Tau gitu beli sama ibuk aja" | "Lha ibuk mesti kalo milih baju modelnya tua banget. Aku tambah nggak nyaman." | "Terusno yo wong tuwone kok malah sing diseneni"


WTF!!!! Aku nggak bilang apa-apa setelah itu. Apa aku salah jika opiniku bertolak belakang dengan opininya? Tadinya aku mengira bahwa jika aku diam, setidaknya aku aman dari dosa. Namun ternyata ibu yang memintaku angkat bicara. Ketika aku meng-iya-kan permintaan ibu, aku juga dipersalahkan. Serba salah!!!


Aku mencoba berpikir jauh. Meskipun tak tahu siapa yang menuntunku menuju arah pikiran yang jauh itu. Aku berpikir, "Kenapa aku nggak pernah benar dimata orang tua ku sendiri? Kenapa aku selalu merasakan ada jurang diantara aku dan ibu? Dan kenapa ibu lebih menyukai adik daripada aku?" Mungkin jawabannya adalah: "Aku nggak pernah serumah sama orangtuaku sendiri"
Dari kalimat itu ada suatu penjabaran cerita yang nggak ada habisnya, air mata yang selalu mengalir, kesedihan yang disembunyikan, dan keletihan yang telah lama tersimpan. 
Mungkin baru sekarang aku bisa meluapkan perasaan lewat beberapa kalimat seperti ini. Ada kelegaan yang aku rasakan setelah menulis dan meluapkan semua masalah yang aku pendam. Hanya sepotong cerita. Namun meskipun hanya sepotong cerita, setidaknya ada sepotong beban yang mencair dan berhasil menghilang dari pikiranku untuk sementara waktu.................

17 Maret 2012

Dalam Hati Saja

If you need a reason why i left you, i will say, "I'm leaving, cause you never ask me to stay"
If you ask me why do i love you stupidly, i just say, "I don't know why cause i'm stupid"
Ya, aku emang cukup bodoh untuk dibodohi oleh manusia sepintar dia. Dia pintar membuat aku sebodoh ini. Dia pintar membuat aku berharap. Dia pintar membuat aku cemburu. Dia pintar menyusun sebuah cerita cinta segitiga dengan aku sebagai tokoh antagonisnya.


Bentar deh ya, bukannya dulu itu aku yang jadi tokoh protagonisnya ya? Aku selalu menjadi pihak yang benar, berparas elok, dan diagung-agungkan oleh keberuntungan. Terus bukannya dulu si itu jadi tokoh antagonisnya ya? Dia yang egois, jahat, parasit, dan oportunis. Ya kan?
Tapi rupanya roda kehidupan sedang aktif berputar ya bung. Coba liat situasi yang sekarang! Aku sekarang yang jadi egois, jahat, parasit dan oportunis. Lalu dia berhasil merebut posisi keberuntunganku, menjadi orang yang cantik dan berarti dimatanya, dan yang terakhir dia selalu menjadi kebenaran dari apa yang dia harapkan sebelumnya.


Aku tidak akan pernah tahu kapan situasi seperti ini akan segera berakhir. Entah akan berakhir bahagia pada pihak ku atau pada pihak nya. Seandainya rasa ini sekalipun telah pergi, apa aku salah jika aku masih mengharapkan suatu kebahagiaan dari rasa yang telah pergi itu? Meskipun rasa itu sekalipun telah hilang, aku akan menghindar dari perasaan indahnya mencintai seseorang yang pertama kali singgah dan berlabuh dalam sekejab. Meski tak terucap, meski dalam hati saja :')

9 Maret 2012

What a...............!!!!

What a mean you are! What a liar! What a chicken! What a devil! What a.............. *sensor*


Rasanya hati itu kayak elpiji 3 kilo #eh salah elpiji 34,78 kg yang sengaja dibakar. Udah tau barang serem, tapi berani nantang mau njadiin barang serem macem elpiji jadi lebih serem lagi. Kentir, kemlinti, gendeng, gak bek sisan (gak penuh) (?)
Susah ya mendeskripsikan perasaan sama analogi analogi intelektual gitu. Bisa aja antara analogi satu sama analogi dua masih belum berkesinambungan dengan situasi hati. Sebisa bisa orang baca perasaan, kayaknya nggak separah aku menganalogikan perasaanku sendiri. Btw, analogi apaan sik?
Nggak penting. Sekarang yang penting ini..............


Ternyata masih ada lho jeung/ ndoro/ tuan/ nyonyah, orang di bumi ini yang sukanya pamer kalo punya "barang baru"!! Yaaaa meskipun "barang baru" nya itu cuma barang biasa. Ngerasa jadi pejantan tangguh ya kalo udah berhasil ngoleksi barang-barang yang dipengen? Ngerasa ganteng? Ngerasa hebat? Iyadeh, emang paling tangguh, ganteng, hebat di sepanjang masa. Mmm, masa purba tapi =)))


Aku sama sekali nggak keberatan kamu deket sama perempuan mana pun. Aku nggak berhak atas kamu. Aku bukan siapa siapa kamu. Dan yang pengen tak klarifikasi adalah memang aku pernah suka sama kamu, tapi itu dulu. Duluuuu banget, waktu aku masih polos dan mataku masih belum terbuka lebar :'>


Ngerasa dapet pahala ta kalo udah ingkar janji itu? Syek tak ngguyu syek :)) Katanya alim, ngajinya rutin, solat juga nggak pernah bolong, puasa senin-kamis juga nggak pernah lupa, tapi kenapa kok sombong nya nggak nguati gitu se mas? Oiyase, kan punya "koleksi baru" yah. Njiee yang sekarang udah berani bangga banggain "koleksi baru" mu. Nggak inget ta kalo dulu sering maki-maki "koleksi baru" mu? Nggak inget juga apa dulu suka nyia-nyia in "koleksi baru" nya? Nggak inget juga ta, dulu pernah bilang kalo "koleksi baru" mu itu aneh, mboseni, bikin ilfil, dan bla bla bla~? 
Dan... kayaknya kamu juga udah nggak inget kali ya sama janji janji buatanmu sendiri untuk aku!!!!   
Tau nggak ungkapan "seperti menjilat ludah yang sudah dibuang"? Yaaa kamu cukup pintar lah buat mengerti makna ungkapan nya. Kalo udah ngerti maknanya coba introspeksi lagi yah :'))
Mmm, btw met yaaaah..


Oiya satu lagi, pernah nggak sih aku maksa kamu buat suka balik ke aku? Pernah juga nggak sih aku maksa maksa kamu deket sama "koleksi-koleksi" mu yang lain? Pernah nggak ya aku maksa kamu mutusin semua "koleksi-koleksi" mu? Nggak kan ya. Muehehe.
Jadi, kamu juga nggak punya hak buat maksa maksa aku pacaran sama orang yang belum aku sukai. Ibuku yang sehari hari ngasih makan sama ngasih uang jajan aja nggak pernah mencampuri urusan pribadiku!! Tapi kenapa ya, kamu yang bukan siapa siapa ku jadi heboh sendiri gitu sok sok an ikut campur urusanku? Pengen jadi pahlawan kesiangan yah? Maaf mas, udah magrib!


Satu hal lagi yang mesti kamu camkan baik baik:
Uripmu yo uripmu, uripku yo uripku!
Mbiyen yo mbiyen, saiki yo saiki!

1 Maret 2012

Janji Diatas Ingkar

Pernah nggak kamu dijanjiin atau diiming-imingi sesuatu yang indah sama orang yang kamu harapakan? Seneng banget kan? Bahagia? Terharu? Kayak terbang gitu atau gimana? Kalau aku ya, nggak bisa diungkapin sama kata-kata pokoknya. Tau nggak "janji palsu" mu itu sempet bikin aku melayang. Tapi cuma bentar, habis gitu langsung jatuh. Muehehe.
Bisa dikatakan aku berhasil memendam rasa sakit akibat "jatuh" tadi dengan caraku sendiri. Ya, memang hanya waktu yang bisa bantu aku bertahan. Bukan siapa-siapa bukan apa-apa. Berat. Sakit. Capek. Nelangsa. Terkoyak. Macem-macem. Aku nggak menyalahkan siapa siapa. Karena kita sama sama salah. Tau nggak salahmu apa? Kamu salah karena udah membuat janji janji itu ada. Membuat aku semakin berharap. Lalu membuat aku semakin sakit menanggung resikonya.
Kalau aja aku udah tau kalau janji itu hanyalah omong kosong. Andai aja dulu aku yakin kalau janji itu adalah harapan yang hanyalah sebuah harapan. Pasti rasanya nggak sesakit ini ya. Meskipun aku adalah tipe anak yang "menter" tapi sementer-menter nya aku, pasti akan jatuh juga :'>
Aku mencoba mengkaitkan analisis persoalanku dengan persoalan yang dialami sama temen baikku. Inti permasalahannya adalah temen baikku ini baru menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang baru dekat dengannya selama 3 hari. Sebelumnya, memang laki-laki ini pernah dekat dengan teman perempuannya. Sampai akhirnya mereka mengikatkan diri mereka diatas sebuah janji dan bla bla bla~ Tapi dalam jangka waktu yang pendek pula laki-laki yang sekarang ini sedang menjalin hubungan dengan teman dekatku ini mengingkari janjinya dan berani menjalani hubungan dengan teman baikku ini.
Tentulah ada saja permasalahan yang dialami mereka. Salah satunya, pacar teman baikku ini masih belum bisa melupakan mantan teman dekatnya dahulu. Dan timbullah rasa ketidakpercayaan dari teman baikku kepada kekasihnya serta teman baikku ini sedang membenci "mantan" teman dekat kekasihnya itu.
Hey, sadar nggak? Sekarang aku sedang berada di posisi mantan teman dekat kekasihmu lho. Hahaha. Kadang aku benci sama sahabat baikku sendiri karena keberadaan sisi antagonisnya. Satu sisi dimana dia lebih respect dengan apa yang dia rasakan sendiri daripada apa yang sedang dirasakan mantan teman dekat kekasihnya. Egois. Jahat.
Mungkin sahabat dekatku masih belum menyadari bahwa "AKU DAN MANTAN TEMAN DEKAT KEKASIHNYA ITU SAMA SAMA NGGAK BISA MEMBEDAKAN MANA YANG JANJI MANA YANG SEKEDAR BUALAN. AT LEAST IT WAS SO HURT US!"

29 Desember 2011

Wejangan.

Dalam situasi yang sebenernya, aku sama ayah emang "njowo-an". Karena aku orangnya nasionalis dan bangga terhadap Bahasa Indonesia, aku mencoba menerjemahkannya.

A : Yah, ayah dulu pernah nggak suka sama cewek? Orangnya cantik?
B : Pernah. Nggak cantik, tapi menarik. 
A : Ayah sayang sama dia? Terus ayah udah bilang sayang sama orang itu?
B : Ayah nggak berani, vir. Masalahnya kalau dulu mau pacaran sama anak orang itu kan harus punya bekal materi dulu.
A : Lho kok gitu? Aneh!
B : Ya itu bedanya jaman dulu sama jaman sekarang. Kalau dulu, mau pacaran sama anak orang ya harus punya materi yang cukup untuk menuju ke jenjang selanjutnya.
A : Masa kalau udah pacaran harus langsung nikah? 
B : Ya kebanyakan gitu. Ayah juga sungkan kalau ayah sampai menyakiti perasaan anak orang. Gak baik itu, vir.
A : Wih wih! Katanya kan dulu mbah kung itu cuma orang biasa, kalo gitu waktu SMA kan ayah nggak punya materi lebih. Berarti ayah nggak pernah pacaran?
B : Ya ndak, vir! 
A : Sekarang aku nggak punya kecukupan materi. Berarti aku nggak boleh suka sama cowok dong?
B : Kamu kan perempuan. Situasinya sudah beda dengan situasi yang ayah alami. Suka sama orang itu hak mu. Tapi kalau orang yang kamu suka itu nggak suka sama kamu, itu juga hak dia. Kamu ataupun dia nggak boleh saling memaksakan kehendak. Itu bisa merusak pertemananmu sama dia juga.
A : Kata temenku ya yah, kalau aku lagi suka sama cowok itu harus cepet-cepet diungkapin. Biar nggak nyesek terus terusan. Biar cowok yang aku suka itu nggak berpaling ke orang lain. Temenku bener nggak?
B : Ada benernya juga. Tapi kamu harus hati hati, kalau kamu siap menjalin hubungan tingkat anak SMA, kamu juga harus siap untuk sakit hati.
A : Yaudahlah ada benernya juga ya yah kalau aku sekarang nggak pacaran sama siapa siapa!
B : Kamu salah pengertian. Pacaran tingkat anak SMA itu cuma nambah pengalaman dan wawasanmu aja biar kedepannya nanti kamu lebih dewasa memilih calon-calon suami dan ayah untuk anak anakmu. Intinya pacaran tingkat anak SMA itu hanya tahapan menuju suatu kedewasaan aja.
A : Tapi kalau ujung ujung nya sakit hati? Jadi males yah!
B : Lho, sakit hati itu juga biar kamu jadi lebih dewasa, vir! Waktu sakit hati itu kan emosimu lagi labil dan sedang diuji sama Allah. Apakah kamu mampu atau tidak melewati masa-masa sulit ini. Kalau kamu mampu, berarti kamu tambah dewasa. Kalau kamu tidak mampu, ya kamu masih jadi remaja labil.
A : Kok jadi serba salah gitu se yah? Terus aku harus gimana sekarang?
B : Kalau pacaran tingkat anak SMA itu jarang ada yang bener bener serius dan tidak beresikokan sakit hati bagi yang menjalankannya. Daripada sakit hati, mending kamu pacarannya kalau udah jadi orang aja!
A : *kemudian hening*

*Tembok-tembok retak*

*Kaca meja pecah*

*Berasa ada di tepi jurang*

Tapi wejangan-wejangan Ayah bener semua. Dari cerita ayah aku juga belajar gimana arti menghargai  perasaan orang sampai memahami perasaanku sendiri. 
Thanks yah! Simple words but meaningful! ({})

22 Desember 2011

Flying with the wind

I'm writing based on my experiences. Whatever I thought, i really don't care. Just followed my heart, as long as i could have some kind of happiness over the tears which doesn't still go away from me. If you ask me that am I still live in my past, I'll admit it. I was still there. However if you ask me what the reasons, so pardon me i can't describe that. Cause i don't know why. That's simple right? All i knew was there weren't one prince who helped me get out from there and follow him landed just to stop over while in my smiling time.


But, that was my past. You know what! I feel something else comes slowly in my better life. Came like a blast of wind which can't be touched but can be felt it. I still doubt that blast of wind which i felt there was real or just a fiction. However, I tried to follow where they lead by continuing to feel some breaths of it to penetrated my soul.


I continued to follow some directions of that blast wind. Although I don't know whether he knew or not why i followed him quietly. I didn't hope if that wind take me to somewhere i dreamed of. Such a wonderful places, brighter than here, and very fun scenery. I wouldn't blame if the next time after, I will carried by him over to a contrast place of my wishes should be.


Maybe once in a while, I have to be careful with that wind. I can be hurt and being sick if that was a kind of bad wind. But, I could fly with him,  if he was such a good wind which wanted to be a good friend with me. Of course, i don't want the bad things happen to me. I wish i can fly with that wind which followed by me. Despite I ever felt the pain because I had follow the blowing winds and I ever felt some happiness when I can fly with him.

10 Desember 2011